Cathy & Julie

Dalam rangka menggalakan kampanye produk kami V-Cological Series, dimana setiap 1% dari produk itu adalah sumbangan untuk sebuah  yayasan dimana Volcom global bekerja sama dengan S.O.S (Sumatran Orangutan Society). Tim kami berkesempatan untuk berangkat melihat sendiri bagaimana kehidupan di sana dan apa yang kami bisa kontribusikan bersama patron S.O.S Cathy Sharon dan Julie Estelle.

Hari pertama kami terbang ke Medan, sekitar 3 jam perjalanan yang cukup ‘tegang’ dengan karakter juru kemudi yang liar ditambah jalan lika liku tak ada ujungnya. Akhirnya kami tiba di Besitang, sebuah perkampungan kecil di tengah kebun kelapa sawit.

Kami tinggal di rumah penduduk yang terbuat dari kayu, mandi dengan air kotor karena kurangnya penyerapan akibat lahan kelapa sawit, setidaknya satu malam kami merasakan bagaimana jadi penduduk situ.

Di pagi hari yang berembun tim berangkat dengan mobil 4×4 menuju lokasi restorasi hutan setelah melewati jalan yang licin, penuh lumpur tidak beraturan di tengah-tengah perkebunan sawit yang luasnya beribu-ribu hektar.

Penebangan liar (illegal logging) juga sering terjadi yang mengakibatkan hutan punah begitu juga dengan hewan-hewan yang berhabitat di situ, terutama orangutan.

Salah satunya adalah menanam jutaan pohon di sekitar hutan yang masih “perawan” dan mengembalikan hewan-hewan seperti gajah dan bayi burung hantu ke hutan liar. Kira-kira restorasinya seperti itu.

Hari kedua kami pindah ke Bukit Lawang, melewati lahan kebun sawit yang 5 kali lipat lebih besar dan beberapa pabrik yang terlihat sudah berdiri sejak 1970-an.  Setelah perjalanan yang kurang lebih sama dari hari pertama akhirnya kami tiba di Bukit Lawang, setelah dari pemukiman yang cukup sedih melihatnya pindah ke daerah turis yang indah. Bungalow-bungalow dibangun diantara batu-batu dan air terjun yand jadi sumber air segar sekali untuk mandi. Dengan pemandangan Gunung Leuser yang dibatasi sungai Bohorok.

Keesokan paginya kami berangkat ke Taman Nasional Gunung Leuser, mendaki melewati berbagai rintangan dan licin penuh lumpur akibat turunnya hujan.  Sekitar 4 jam kami berkeliling hutan Gunung Leuser. Dari sekitar 20-an orangutan semi-liar akhirnya kami bisa bertemu 4 orangutan, dua betina, masing-masing dengan anaknya dan beberapa primata lainnya seperti makaka, Thomas Leaf Monkey, Lutung tidak lupa juga dengan burung merak. Serangga-serangga seperti semut yang belakangnya mengandung limun. Lahan seluas 500 hektar ini seharusnya menjadi penyangga Taman Nasional Gunung Leuser yang terbentang dari Medan hingga Aceh. Namun ekspansi perkebunan kelapa sawit sempat menghancurkan eksosistem dan hutan di daerah ini. Sedihnya hutan di Indonesia terancam punah masa depannya karena ulah manusia ini, fakta mengatakan hanya sisa 10% dari dunia hutan tropis di Indonesia. Tidak terasa sudah jam makan siang waktunya kembali turun dan sorenya setelah melepas lelah, tim mengitari sungai dengan ban dalam yang disebut dengan tubing sampai di tebing, dimana biasanya dijadikan tempat lompat, dari anak-anak sampai dewasa mengadu nyali-nya. Cukup tegang hanya dengan menontonnya saja.

Cathy mengatakan,“Biarkanlah mereka tetap liar, jangan disentuh atau diganggu…observasi atau melihat saja cukup, karena DNA mereka 96.4% sama dengan kita. sifat, emosi, kebiasaan mereka hampir sama dengan kita.” Dalam ilmu ekologi, Orangutan dalam suatu kawasan hutan berperan sangat penting dalam penyebaran tumbuhan atau pohon, oleh karena itu,keberadaannya sangat penting bagi regenerasi hutan itu sendiri,sehingga manusia dapat memperoleh manfaat hutan.”

 

SAVE ORANGUTAN!! SAVE THE RAINFOREST!!